Perkenalkan nama saya VIKY INDRA PRATAMA ADA' , Lahir didaerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya didesa terpencil Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Buah dari kesucian seorang yang sering kusebut Bapak dan Ibu, Bapak yang berasal asli dari Kebumen dan Ibu yang berasal asli dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Aku adalah Si Sulung dari dua bersaudara, tepat 14Tahun yang lalu tepatnya didaerah Ibu kota jakarta adikku Si Bungsu lahir, sesuatu yang dinantikan bagiku dan yang paling terutama adalah Bapak dan Ibuku yang menginginkan dirinya aku memiliki seorang adik, hehe suatu yang banget untuk keluarga kecilku, "Alhamdulillah" kataku sambil mengucap rasa syukur akhirnya aku punya adik, hehe.
Beberapa orang yang sudah banyak mengenalku bertanya,
"Seruuu yakk, beda-beda suku kayak gitu"
...
"Gimana bisa ketemu begitu sih?"
...
"Bapak Suku Jawa, Ibu Suku Sulawesi, Adik Suku Betawi, sedikit lagi nanti dari Sabang sampai Merauke, hehe"
...
Pertanyaan yang sederhana namun membuat hati terkesan begitu bangga.
"Bangga boleh, meninggi jangan, membumi itu diharuskan", hehe sedikit filosofi tidak apa-apa bukan.
Awal mulanya, bapak dan ibu adalah rekan satu tempat kerja di Kalimantan Timur (Samarinda) awalnya mereka hanya seorang teman kerja. Singkat cerita, seiring waktu berjalan sosok sang bapak terpikat pada pesona sang Ibu, ciyeeee cinta pandangan pertama nih si Bapak, hehehe. Memang betul cinta bisa datang kapan saja dan dimana saja, hanya saja kita harus bersabar untuk menunggu waktunya yang tepat.
Beberapa tahun berlalu Bapak dan Ibu mengucap janji sucinya dikota yang sangat jauh dari kota kelahiran mereka berdua, Kalimantan Timur (Samarinda) jadi saksi cinta mereka berdua.
1997,
Ibu yang kala itu mengandung buah cintanya memutuskan untuk pergi ketempat kelahiran bapak (Kebumen, Yogyakarta, Jawa Tengah), 1997 berlalu buah cintanya telah lahir kedunia rasa syukur terpanjatkan atas penantian nya, 1998 adalah hal bersejarah bagi mereka berdua dan 1998 adalah hal awal bagiku melihat indahnya dunia.
1999,
Setahun di Jawa Tengah setelah kelahiranku, Bapak dan Ibu beranjak dari kampung halaman untuk menapaki kerasnya kehidupan di Ibu kota, "Luar biasa" kataku setelah dewasa mengetahui hal itu.
Bagaimana tidak pada saat itu (1998) dunia sedang mengalami "Krisis Moneter" yang kala itu memaksa presiden kedua kita "Soeharto" dipaksa untuk turun dari kursi kepresidenan.
Bapak dan Ibu yang kala itu hidup dengan pas-pasan mampu Bertahan hidup dikerasnya kehidupan di Jakarta.
2006
6 tahun telah berlalu kehidupan di Jakarta, Si Bungsu lahir kedunia dan akhirnya aku memiliki adik, sebut saja ANDIKA SURYA SAPUTRA yang merasakan tangisan pertamanya saat lahir kedunia, lagi-lagi Bapak dan Ibu merasakan Hal bersejarah dari buah cintanya Si Bungsu lahir dengan berjenis kelamin cowo.
Waktu terus berputar, hari, bulan, serta tahun silih berganti dengan begitu cepat, kitapun tidak bisa menahan waktu tapi waktulah yang mampu menahan kita.
10 Tahun berlalu begitu cepat, setelah Si Bungsu lahir kedunia tepat 4 tahun silam, kami sekeluarga beranjak dari kerasnya kehidupan di Ibu Kota Jakarta.
Kali itu saudara dari Ibu memanggil adiknya untuk melanjutkan hidup di "Kota Daeng (Makassar)".
2008 Makassar, Sulawesi Selatan, Awal kehidupan baru dimulai.
Sebuah suasana baru yang mengaharuskan keluargaku untuk kembali berbaur pada suasana di kota ini (Makassar).
Aku yang kala itu melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar ku di kota Makassar membuat aku sedikit merasa kurang percaya diri, mulai dari bahasa keseharian yang digunakan hingga pola kehidupan yang mengharuskan aku sebisa mungkin secepatnya harus bisa berbaur.
Hheh, maklum kala itu logat masih sedikit "Loe, gue" jadi banyak yang ketawain deh, hehe. Wajar sih kala itu masih begitu anak-anak jadi mendengar logat yang sangat asing ditelinga mereka adalah bahan yang sangat lucu dan jadi bahan ejekan mereka.
Seperti yang saya bilang sebelumnya "Waktu terus berputar, hari, bulan, serta tahun silih berganti dengan begitu cepat, kitapun tidak bisa menahan waktu tapi waktulah yang mampu menahan kita."
Dari aku yang awalnya merasa begitu canggum kini tidak lagi, yang dulunya logat masih "Loee..Guee..." Kini menjadi frasa "Ki, iyee, kita" (sebuah kata yang santun orang makassar), hehe.
2020 Di Makassar,
Sudah 12 Tahun Makassar tempat Aku dan Si Bungsu tumbuh besar, sudah 12 Tahun pula Aku bersama keluarga kecilku meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan di Ibu Kota Jakarta.
Pernah berfikir mungkin kita akan menua bersama di Kota Daeng ini Makassar, tapi entahlah biar Waktu yang menjawab pertanyaanku dengan sendirinya.